PROFIL DESA KRENCENG
1. KONDISI DESA
a. Sejarah Desa
Sejarah Desa Krenceng tidak terlepas dari sejarah Masyarakat yang menggabungkan diri dari Pengikut Pangeran Diponegoro pada tahun 1850 yang berada di Kabupaten Blitar. Desa ini sejak awal ...bernama Desa Krenceng dengan lurah seumur hidup yang bernama Wongso. Lurah Wongso adalah Kepala Desa yang dermawan, karena sangat terpengaruh oleh gaya kehidupan masyarakat Pengikut Pangeran Diponegoro.
Karena adanya semangat perubahan maka desa ini mengalami banyak perkembangan dengan selalu estafet tampuk kepemimpinan desa yang penuh jiwa kepahlawanan dan perjuangan. Adapun kepala desa yang pernah menjabat hingga sekarang adalah sebagai berikut:
Wongso ( tahun 1850 s.d 1918 ),
Sastro Utomo ( tahun 1918 s.d 1934 ),
Kromo Taruno ( tahun 1934 s.d 1945 ),
Muntahar ( tahun 1945 s.d 1956 ),
Abdul Rojak ( tahun 1956 s.d 1975 ),
Sarju ( tahun 1975 s.d 1981 ),
Sudarmadi ( tahun 1981 s.d 1992 ),
Suryadi ( tahun 1992 s.d 2007 ), dan
Musta’in ( tahun 2007 s.d sekarang)
b. Demografi
Berdasarkan data Administrasi Pemerintahan Desa tahun 2010, jumlah penduduk Desa Krenceng adalah terdiri dari 711 KK, dengan jumlah total 2304 jiwa, dengan rincian 1175 laki-laki dan 1129 perempuan,
(img:1719103996882)
Dari data di atas nampak bahwa penduduk usia produktif pada usia 20-49 tahun Desa Krenceng sekitar 912 atau hamper 39 %. Hal ini merupakan modal berharga bagi pengadaan tenaga produktif dan SDM.
Tingkat kemiskinan di Desa Krenceng termasuk tinggi. Dari jumlah 711 KK di atas, sejumlah 53 KK tercatat sebagai Pra Sejahtera, 111 KK tercatat Keluarga Sejahtera I, 177 KK tercatat Keluarga Sejahtera II; 183 KK tercatat Keluarga Sejahtera III; 187 KK sebagai sejahtera III plus. Jika KK golongan Pra-sejahtera dan KK golongan I digolongkan sebagai KK golongan miskin, maka lebih 50 % KK Desa Krenceng adalah keluarga miskin.
Secara geografis Desa Krenceng terletak pada posisi 7°21'-7°31' Lintang Selatan dan 110°10'-111°40' Bujur Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa daratan sedang yaitu sekitar 167 m di atas permukaan air laut. Berdasarkan data BPS kabupaten Blitar tahun 2010, selama tahun 2010 curah hujan di Desa Krenceng rata-rata mencapai 2.400 mm. Curah hujan terbanyak terjadi pada bulan Desember hingga mencapai 405,04 mm yang merupakan curah hujan tertinggi selama kurun waktu 2010-2011.
Secara administratif, Desa Krenceng terletak di wilayah Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar dengan posisi dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar Di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Kemloko Di sisi Selatan berbatasan dengan Desa Bangsri Kecamatan Nglegok sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Jiwut Kecamatan Nglegok Jarak tempuh Desa Krenceng ke ibu kota Kecamatan adalah 3 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 0.25 jam. Sedangkan jarak tempuh ke ibu kota Kabupaten adalah 7 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 0,5 jam.
c. Pendidikan
Pendidikan adalah satu hal penting dalam memajukan tingkat SDM (Sumber Daya Manusia) yang dapat berpengaruh dalam jangka panjang pada peningkatan perekonomian. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka akan mendongkrak tingkat kecakapan masyarakat yang pada gilirannya akan mendorong tumbuhnya ketrampilan kewirausahaan dan lapangan kerja baru, sehingga akan membantu program pemerintah dalam mengentaskan pengangguran dan kemiskinan. Prosentase tinggkat pendidikan Desa Krenceng dapat dilihat pada Tabel 5.
(img:1719107316965)
Dari data pada table di atas menunjukan bahwa mayoritas penduduk Desa Krenceng hanya mampu menyelesaikan sekolah di jenjang pendidikan wajib belajar sembilan tahun (SD dan SMP). Dalam hal kesediaan sumber daya manusia (SDM) yang memadahi dan mumpuni, keadaan ini merupakan tantangan tersendiri.
Rendahnya kualitas tingkat pendidikan di Desa Krenceng tidak terlepas dari terbatasnya sarana dan prasarana pendidikan yang ada, di samping tentu masalah ekonomi dan pandangan hidup masyarakat. Sarana pendidikan di Desa Krenceng baru tersedia di tingkat pendidikan dasar 9 tahun (SD dan MI), sementara untuk pendidikan tingkat menengah dan atas berada di tempat lain dalam satu kecamatan yang tidak jauh.
Sebenarnya ada solusi yang bisa menjadi alternatif bagi persoalan rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) di Desa Krenceng yaitu melalui pelatihan dan kursus. Namun sarana atau lembaga ini ternyata juga belum tersedia dengan baik di Desa Krenceng Bahkan beberapa lembaga bimbingan belajar dan pelatihan yang pernah ada tidak bisa berkembang.
d. Kesehatan
Masalah pelayanan kesehatan adalah hak setiap warga masyarakat dan merupakan hal yang penting bagi peningkatan kualitas masyarakat kedepan. Masyarakat yang produktif harus didukung oleh kondisi kesehatan. Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari banyaknya masyarakat yang terserang penyakit. Dari data yang ada menunjukkan adanya jumlah masyarakat yang terserang penyakit relatif tinggi. Adapun penyakit yang sering diderita antara lain infeksi pernapasan akut bagian atas, malaria, penyakit sistem otot dan jaringan pengikat. Data tersebut menunjukkan bahwa gangguan kesehatan yang sering dialami penduduk adalah penyakit yang bersifat cukup berat dan memiliki durasi lama bagi kesembuhannya, yang diantaranya disebabkan perubahan cuaca serta kondisi lingkungan yang kurang sehat. Ini tentu mengurangi daya produktifitas masyarakat Desa Krenceng secara umum.
Sedangkan data orang cacat mental dan fisik juga cukup tinggi jumlahnya. Tercatat penderita bibir sumbing berjumlah 1 orang, tuna wicara 1 orang, tuna rungu 1 orang, tuna netra 0 orang, dan lumpuh 0 orang. Data ini menunjukkan masih adanya kekurangan kualitas hidup sehat di Desa Krenceng
Hal yang perlu juga dipaparkan di sini adalah terkait keikutsertaan masyarakat dalam KB. Terkait hal ini peserta KB aktif tahun 2010 di Desa Krenceng berjumlah 267 pasangan usia subur. Sedangkan jumlah bayi yang diimunisasikan dengan :
(img:1719108757001)
Polio dan DPT-1 berjumlah 246 bayi. Tingkat partisipasi demikian ini relatif tinggi walaupun masih bisa dimaksimalkan mengingat cukup tersedianya fasilitas kesehatan berupa sebuah Puskesmas, dan Polindes di Desa Krenceng Maka wajar jika ketersediaan fasilitas kesehatan yang relatif lengka ini berdampak pada kualitas kelahiran bagi bayi lahir. Dari 24 kasus bayi lahir pada tahun 2009, hanya 1 bayi yang tidak tertolong.
Hal yang perlu juga dipaparkan di sini adalah kualitas balita. Dalam hal ini, dari jumlah 190 balita di tahun 2010, masih terdapat 3 balita bergizi buruk, 3 balita bergizi kurang dan lainnya sedang dan baik. Hal inilah kiranya yang perlu ditingkatkan perhatiannya agar kualitas balita Desa Krenceng ke depan lebih baik.
e. Keadaan Sosial
Dengan adanya perubahan dinamika politik dan sistem politik di Indonesia yang lebih demokratis, memberikan pengaruh kepada masyarakat untuk menerapkan suatu mekanisme politik yang dipandang lebih demokratis. Dalam konteks politik lokal Desa Krenceng hal ini tergambar dalam pemilihan kepala desa dan pemilihan-pemilihan lain (pilleg, pilpres, pemillukada, dan pimilugub) yang juga melibatkan warga masyarakat desa secara umum.
Khusus untuk pemilihan Kepala Desa Krenceng sebagaimana tradisi kepala desa di Jawa, biasanya para peserta (kandidat) nya adalah mereka yang secara trah memiliki hubungan dengan elit kepala desa yang lama. Hal ini tidak terlepas dari anggapan masyarakat banyak di desa-desa bahwa jabatan kepala desa adalah jabatan garis tangan keluarga-keluarga tersebut. Fenomena inilah yang biasa disebut pulung –dalam tradisi Jawa- bagi keluarga-keluarga tersebut.
Jabatan kepala desa merupakan jabatan yang tidak serta merta dapat diwariskan kepada anak cucu. Mereka dipilh karena kecerdasan, etos kerja, kejujuran dan kedekatannya dengan warga desa. Kepala desa bisa diganti sebelum masa jabatannya habis, jika ia melanggar peraturan maupun norma-norma yang berlaku. Begitu pula ia bisa diganti jika ia berhalangan tetap.
Karena demikian, maka setiap orang yang memiliki dan memenuhi syarat-syarat yang sudah ditentukan dalam perundangan dan peraturan yang berlaku, bisa mengajukan diri untuk mendaftar menjadi kandidat kepala desa. Fenomena ini juga terjadi pada pemilihan Kepala Desa pada tahun 2007. Pada pilihan kepala desa ini partisipasi masyarakat sangat tinggi, yakni hampir 97%. Tercatat ada tiga kandidat kepala desa pada waktu itu yang mengikuti pemilihan kepala desa. Pilihan kepala Desa bagi warga masyarakat Desa Krenceng seperti acara perayaan desa.
Pada tahun 2009 masyarakat juga dilibatkan dalam pemilihan umum Anggota Legislatif dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung. Adapun partisipasinya cukup baik dari pada pilihan Kepala Desa, namun hampir 85% daftar pemilih tetap, memberikan hak pilihnya. Ini adalah progres demokrasi yang cukup signifikan di Desa Krenceng.
Setelah proses-proses politik selesai, situasi desa kembali berjalan normal. Hiruk pikuk warga dalam pesta demokrasi desa berakhir dengan kembalinya kehidupan sebagaimana awal mulanya. Masyarakat tidak terus menerus terjebak dalam sekat-sekat kelompok pilihannya. Hal ini ditandai dengan kehidupan yang penuh tolong menolong maupun gotong royong.
Walaupun pola kepemimpinan ada di Kepala Desa namun mekanisme pengambilan keputusan selalu ada pelibatan masyarakat baik lewat lembaga resmi desa seperti Badan Perwakilan Desa maupun lewat masyarakat langsung. Dengan demikian terlihat bahwa pola kepemimpinan di Wilayah Desa Krenceng mengedepankan pola kepemimpinan yang demokratis.
Berdasarkan deskripsi beberapa fakta di atas, dapat dipahami bahwa Desa Krenceng mempunyai dinamika politik lokal yang bagus. Hal ini terlihat baik dari segi pola kepemimpinan, mekanisme pemilihan kepemimpinan, sampai dengan partisipasi masyarakat dalam menerapkan sistem politik demokratis ke dalam kehidupan politik lokal. Tetapi terhadap minat politik daerah dan nasional terlihat masih kurang antusias. Hal ini dapat dimengerti dikarenakan dinamika politik nasional dalam kehidupan keseharian masyarakat Desa Krenceng kurang mempunyai greget, terutama yang berkaitan dengan permasalahan, kebutuhan dan kepentingan masyarakat secara langsung.
Berkaitan dengan letaknya yang berada diperbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah suasana budaya masyarakat Jawa sangat terasa di Desa Krenceng Dalam hal kegiatan agama Islam misalnya, suasananya sangat dipengaruhi oleh aspek budaya dan sosial Jawa. Hal ini tergambar dari dipakainya kalender Jawa/ Islam, masih adanya budaya nyadran, slametan, tahlilan, mithoni, dan lainnya, yang semuanya merefleksikan sisi-sisi akulturasi budaya Islam dan Jawa.
Dengan semakin terbukanya masyarakat terhadap arus informasi, hal-hal lama ini mulai mendapat respon dan tafsir balik dari masyarakat. Hal ini menandai babak baru dinamika sosial dan budaya, sekaligus tantangan baru bersama masyarakat Desa Krenceng Dalam rangka merespon tradisi lama ini telah mewabah dan menjamur kelembagaan sosial, politik, agama, dan budaya di Desa Krenceng Tentunya hal ini membutuhkan kearifan tersendiri, sebab walaupun secara budaya berlembaga dan berorganisasi adalah baik tetapi secara sosiologis ia akan beresiko menghadirkan kerawanan dan konflik sosial.
Dalam catatan sejarah, selama ini belum pernah terjadi bencana alam dan sosial yang cukup berarti di Desa Krenceng Isu-isu terkait tema ini, seperti kemiskinan dan bencana alam, tidak sampai pada titik kronis yang membahayakan masyarakat dan sosial.
f. Keadaan Ekonomi
Tingkat pendapatan rata-rata penduduk Desa Krenceng Rp. ........... Secara umum mata pencaharian warga masyarakat Desa Krenceng dapat teridentifikasi ke dalam beberapa sektor yaitu pertanian, jasa/perdagangan, industri dan lain-lain. Berdasarkan data yang ada, masyarakat yang bekerja di sektor pertanian berjumlah 446 orang, yang bekerja disektor jasa berjumlah 57 orang, yang bekerja di sektor industri 52 orang, dan bekerja di sektor lain-lain. 0 orang. Dengan demikian jumlah penduduk yang mempunyai mata pencaharian berjumlah 556 orang. Berikut ini adalah tabel jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian.
(img:1719112357091)
Dengan melihat data di atas maka angka pengangguran di Desa Krenceng masih cukup rendah. Berdasarkan data lain dinyatakan bahwa jumlah penduduk usia 20-55 yang belum bekerja berjumlah 425 orang dari jumlah angkatan kerja sekitar 139 orang. Angka-angka inilah yang merupakan kisaran angka pengangguran di Desa Krenceng.
2. KONDISI PEMERINTAHAN DESA
a. Pembagian Wilayah Desa
Wilayah Desa Krenceng terdiri dari 1 Dusun Krajan yaitu : Dusun Desa Krenceng, yang dipimpin oleh seorang Kepala Dusun. Posisi Kasun menjadi sangat strategis seiring banyaknya limpahan tugas desa kepada aparat ini. Dalam rangka memaksimalkan fungsi pelayanan terhadap masyarakat di Desa Krenceng dari dusun tersebut terbagi menjadi 3 Rukun Warga (RW) dan 10 Rukun Tetangga (RT).
b. Struktur Organisasi Pemerintah Desa
Keberadaan Rukun Tetangga (RT) sebagai bagian dari satuan wilayah pemerintahan Desa Krenceng memiliki fungsi yang sangat berarti terhadap pelayanan kepentingan masyarakat wilayah tersebut, terutama terkait hubungannya dengan pemerintahan pada level di atasnya. Dari kumpulan Rukun Tetangga inilah sebuah Padukuhan (Rukun Warga; RW) terbentuk.
Sebagai sebuah desa, sudah tentu struktur kepemimpinan Desa Krenceng tidak bisa lepas dari strukur administratif pemerintahan pada level di atasnya. Hal ini dapat dilihat dalam bagan berikut ini:
Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintahan Desa Krenceng
(img:1719116037183)
Nama Pejabat Pemerintah Desa Krenceng
(img:1719118797252)
Nama Badan Permusyawaratan Desa Krenceng
(img:1719121437318)
Nama-nama LPMD Desa Krenceng
(img:1719123877379)
Pengurus Karangtaruna Desa Krenceng
(img:1719127237463)
Tim Penggerak PKK Desa Krenceng
(img:1719129877529)
Secara umum pelayanan pemerintahan Desa Krenceng kepada masyarakat cukup memuaskan dan kelembagaan yang ada berjalan sesuai tugas dan fungsinya masing-masing.
Ditulis Oleh:
* Bpk Zabidi
* Boecah Connect
* Pak Kacunk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar